Kenali 5 Gaya Arsitektur Bangunan Khas Indonesia

Dilansir dari Wikipedia, gaya arsitektur merupakan ciri khusus atau gaya yang terdapat dalam sebuah faksi bangunan yang berdasar pada letak geografis atau masa tertentu.

Umumnya, gaya arsitektur menggambarkan adanya munculnya ide, perubahan mode, bahan baku, agama dan kepercayaan, serta teknologi baru yang akan melahirkan gaya arsitektur baru.

Gaya Arsitektur Indonesia

Arsitektur Klasik

Gaya arsitektur klasik berkembang pada awal aliran kebudayaan serta sejarah peradaban Yunani dan Romawi. Istilah ‘klasik’ ini digunakan untuk sebuah karya arsitektur yang mempunyai ketinggian mutu serta nilai keabadian.

Karya arsitektur klasik, berpusat pada seni pahat berbentuk kolosal guna sebagai media ritual keagamaan, hingga sebagai visualisasi dari kitab suci, agama, dan jenis kepercayaan lainnya.

Arsitektur ini memiliki tiga tujuan dalam pembangunannya, yaitu yang pertama sebagai sarana untuk menyembah Tuhan, kedua untuk tempat berkumpul, ketiga untuk tempat tinggal.

Gaya arsitektur ini memiliki kesan mewah nan anggun dengan ciri khas penambahan ornamen, pilar-pilar, serta profil yang ditampilkan pada masa kerajaan Yunani dan Romawi kuno.

Gaya klasik cenderung mempunyai ukuran yang melebihi fungsi atau kebutuhan bangunan. Komposisinya juga dibuat simetris dengan pola letak jendela yang dibuat teratur.

Mungkin Anda akan berpikir bahwa bangunan dengan gaya klasik hanya terfokus pada bahan bakunya yang terbuat dari batu, kayu, dan lain sebagainya. Dalam beberapa kasus, anggapan tersebut memang tidak salah.

Tetapi, arsitektur klasik juga dapat dirancang dengan sentuhan modern serta desain yang rumit, contohnya pada tiang, atap, dan struktur marmer atau bebatuannya dibuat dengan detail yang menawan.

Arsitektur Modern

Gaya arsitektur modern mulai ada pada akhir abad ke-19 dan masih dipakai hingga saat ini. Konsep arsitektur modern pada mulanya berasal dari kebutuhan untuk membuat bangunan yang lebih efisien dan fungsional.

Dengan perkembangan teknologi yang ada saat ini, arsitek mulai mempertimbangkan adanya estetika dan fungsi dalam suatu bangunan secara bersamaan.

Gara arsitektur ini mementingkan bentuk yang bersih, sederhana, dan fungsional tanpa sentuhan ornamen yang berlebih. Bangunan dengan konsep modern lebih mengutamakan simetri dan proporsi yang seimbang.

Umumnya karakteristik pada arsitektur modern yaitu sebagai berikut:

  • Fungsional, struktur serta bentuk bangunan dibangun sesuai dengan kebutuhan dan fungsinya agar tata letak ruang lebih efisien.
  • Simetris, bangunan ini lebih mengutamakan keseimbangan pada simetri dan proporsi yang harmonis, namun dengan tetap memperhatikan estetika bangunan.
  • Sederhana, gaya arsitektur ini dirancang dengan tampilan sederhana dengan detail geometris serta ornamen yang cukup minimalis.
  • Pencahayaan organik, bangunan modern berupaya untuk memaksimalkan pencahayaan secara alami, seperti penggunaan material kaca sehingga ruangan tampak luas dan terang.
  • Material modern, arsitektur ini menggunakan bahan baku atau material modern seperti kaca, baja, beton, sehingga membuat bangunan lebih kuat, mudah dirawat, dan tahan lama.

Arsitektur Kontemporer

Dalam ilmu arsitektur, gaya modern dan kontemporer mempunyai makna yang berbeda. Predikat kontemporer merujuk pada gaya dan desain bangunan yang merefleksikan konteks saat ini. Dapat dikatakan, gaya kontemporer mengacu pada sesuatu yang sedang diproduksi di masa sekarang atau up to date.

Sedangkan, arsitektur modern merupakan gaya yang ada di suatu era yang mana dimulai dari pertengahan abad ke 20 dan masih berlaku sampai sekarang.

Oleh karena itu, desain lama juga dapat dikombinasikan dengan gaya arsitektur kontemporer. Contohnya seperti gaya klasik kontemporer, modern kontemporer, dan lain sebagainya.

Karakter yang khas pada desain kontemporer adalah menggunakan material baru baik untuk interior dan eksteriornya. Bahan seperti kayu, kaca, logam, dan batu bata sering kali dipakai di bangunan ini.

Selain itu, ecohousing adalah ciri khas lainnya yang biasanya diaplikasikan dalam bangunan kontemporer. Hal ini bertujuan agar rumah dan alam saling terintegrasi. Tidak heran, arsitek akan senang menambah tanaman hijau serta elemen-elemen yang ramah lingkungan.

Dalam seni arsitektur, unsur garis lurus kebanyakan sangat mendominasi bentuk dalam sebuah bangunan. Sebaliknya, gaya kontemporer akan menjauhi kebiasaan ini dan sebagai gantinya arsitek akan lebih banyak memakai bentuk lengkung.

Arsitektur Tradisional

Arsitektur tradisional adalah rancang bangunan yang dibentuk melalui cara yang sama dari satu generasi ke generasi lainnya serta sedikit atau tanpa mengalami perubahan. Arsitektur ini mencerminkan kebudayaan dan adat istiadat dari masyarakat tertentu.

Gaya tradisional ini mempunyai aturan yang turun-temurun diwariskan dan tidak dapat diubah. Maka dari itu, arsitektur ini menerapkan komitmen etis yang sangat tinggi pada tradisi, komunitas, lokasi, dan budaya lokal.

Indonesia sendiri memiliki banyak rumah tradisional di setiap daerah, di antaranya Rumah Gadang dari Sumatera Barat, Rumah Joglo dari Jawa Tengah, Rumah Honai dari Papua, dan masih banyak lagi.

Setiap rumah adat mempunyai karakter serta ciri khas tersendiri dan mempunyai makna atau filosofi yang sangat dipercaya oleh warga lokal setempat.

Arsitektur Vernakular

Berbeda dengan arsitektur tradisional dimana merupakan pengulangan dari suatu generasi ke generasi sesudahnya dan terdapat pengakuan lisan.

Arsitektur vernakular adalah suatu desain bangunan yang sifatnya kontekstual. Selain itu, gaya arsitektur ini juga akan mengalami perkembangan dari masa ke masa.

Setiap gaya dalam arsitektur bangunan mempunyai ciri dan karakternya sendiri, begitu juga dengan arsitektur vernakular. Berikut beberapa ciri-ciri yang umumnya terdapat dalam gaya arsitektur vernakular:

  • Material bangunan, arsitektur vernakular memanfaatkan bahan atau material tradisional yang ada di daerah tersebut. Bahkan ada yang sama sekali tidak memakai bahan dari luar.
  • Proses pembangunan, pembangunan pada gaya arsitektur ini masih memanfaatkan teknologi tradisional atau tidak menggunakan mesin-mesin berat dalam prosesnya.
  • Gotong royong, ciri khas lainnya pada arsitektur vernakular adalah proses pembangunannya tidak dibantu oleh ahli, tetapi hanya dibantu oleh tenaga masyarakat setempat.
  • Menyesuaikan iklim, bangunan konstruksi vernakular disesuaikan dengan kondisi atau iklim daerah tersebut. Contohnya, jika daerah tersebut beriklim dingin, maka bangunan akan cenderung menggunakan material dasar seperti kayu dan jerami agar memberikan efek hangat untuk penghuninya.
  • Budaya lokal, bangunan vernakular mempunyai nilai tradisional dari kebudayaan masyarakat setempat.

Ditambah lagi gaya arsitektur vernakular menggunakan bahan alami dan tidak memanfaatkan teknologi mesin, sehingga proses pembangunannya tidak membutuhkan biaya yang terlalu besar atau cenderung hemat.

Penulis: Arif Yulianto Permana

Arif Yulianto Permana, seorang lulusan S1 Teknik Arsitektur yang memadukan kreativitas dan perhatian mendalam dengan isu-isu sustainability. Dengan visi inovatifnya, ia telah mengerjakan beragam proyek, dari rumah tinggal yang elegan hingga proyek-proyek komersial yang beragam.

Scroll to Top